Masjid Sebagai Pusat Pendidikan Karakter di Sekolah Muhammadiyah

29 April 2017 11:56

Oleh: Yunita Dwi Andini

(Mahasiswa Magister Pendidikan Vokasi Universitas Ahmad Dahlan)

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Secara bahasa, Kata Masjid adalah tempat yang dipakai untuk bersujud. Kemudian maknanya meluas menjadi bangunan khusus yang dijadikan orang – orang untuk berkumpul menunaikan shalat berjama’ah. Mereka para pemakmur masjid mendapat kemuliaan disisi Allah SWT. Allah SWT menjadikan masjid sebagai pengikat kesatuan hamba – hambanya. Fungsi utama masjid adalah sarana beribadah mentaati Allah SWT. Di setiap sekolah Muhammadiyah pasti memiliki masjid di dalamnya ataupun disekitarnya.

Realita di sekolah masjid hanya dikunjungi saat menunaikan sholat berjama’ah. Bahkan siswa juga sangat sulit diajak ke masjid untuk menunaikan solat saat berada di lingkungan sekolah. Terlebih dengan alasan – alasan mereka yang membuat para pengajar kualahan menanganinya, contohnya beberapa siswa putri yang alasannya adalah haid. Hal itu dimaklumi ketika minggu pertama namun minggu – minggu selanjutnya alasan itu selalu dijadikan topeng untuk tidak menunaikan solat. Banyak juga siswa putra yang bersembunyi entah di kantin atau di kamar kecil. Seharusnya solat sudah merupakan kewajiban mereka. Perlu adanya progam yang membimbing siswa, contoh program keputrian atau keputraan di sekolah. Bimbingan berupa kajian islami, kultum dan sharing masalah keputrian atau keputraan. Bimbingan tersebut diharapkan menjadi wadah konsultasi dan menumbuhkan semangat siswa untuk beribadah, agar sekolah memiliki kemuliaan tumbuhkan karakter siswa melalui kegiatan di masjid.

Teringat dengan salah satu guru SMK Muhammadiyah Mungkid Bapak Arif Arfianto, beliau berkata “Lebih Baik Memaksa Anak Masuk Surga daripada Membiarkan Anak Masuk Neraka”. Memang benar dari masjidlah karakter anak mampu dilihat. Siswa yang sudah terbiasa menunaikan solat pasti apabila mendengar suara adzan entah di sekolah ataupun di lingkungan sekitar akan bergegas menunaikan solat. Siswa yang rajin menunaikan solat juga pastinya memiliki perilaku yang baik. Program utama masjid adalah mensolatkan orang hidup. Apabila mensolatkan orang mati mudah takbirkan 4 kali sekali salam selesai. namun mensolatkan orang hidup butuh dorongan yang luar biasa dari semua pihak. Siswa merupakan tanggung jawab penuh guru, sebagai pengganti orang tua di sekolah. Libatkan semua pihak di sekolah dari kepala sekolah, guru, karyawan dan organisasi di sekolah untuk memantau solat siswa.

Masjid sekolah harus memiliki data semua siswa untuk dijadikan absensi. Agar sekolah mampu memantau siswanya yang sudah menunaikan solat atau belum. Siswa yang belum menunaikan solat diberi bimbingan khusus bukan hukuman. Apabila ada pemantauan berarti semakin hari seharusnya siswa yang tidak menunaikan solat semakin sedikit atau bahkan tidak ada. Harus ada kebijakan waktu solat, apabila waktu solat tiba seluruh kegiatan dihentikan untuk melaksankan solat berjama’ah.

Sekolah terkadang memperbaiki ruangan, gedung dan fasilitas pendukung lainnya sampai lupa ada masjid yang harus diperhatikan. Fasilitas masjid harusnya memadai mulai dari tempat wudhu dengan perairan yang cukup, alas karpet yang bersih, alat beribadah yang lengkap dan pendukung lainnya. Kenyamanan di masjid merupakan salah satu faktor siswa mau pergi ke masjid sekolah. Mereka lebih tertarik dengan fasilitas yang memadai daripada hanya sebuah nasihat. Masjid merupakan pusat pendidikan karakter yang seharusnya sebagai akses mencari ilmu. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di masjid untuk menumbuhkan karakter siswa.

Membangun Kedisiplinan melalui masjid seperti solat tepat pada waktunya dan  kultum sebelum jam masuk sekolah, merupakan salah satu cara mendidik kedisiplinan. Tidak ada lagi siswa terlambat masuk sekolah kalau ada kegiatan sebelumnya. Karakter disiplin adalah faktor utama penunjang kesuksesan siswa. Adanya program keputrian dan keputraan sebagai wadah konsultasi siswa.

Dengan program itu diharapkan mampu mengetahui masalah yang dialami siswa, karena setiap perilaku menyimpang yang dilakukan siswa pasti memiliki latar belakang kenapa siswa berperilaku seperti itu. Mungkin siswa tidak mau menunaikan solat karena memang tidak diajarkan oleh kedua orang tuanya sehingga mereka tidak mengerti bacaan solat, atau takut menunaikan solat karena ajakan teman, atau juga karena mereka memang malas.

Masalah tersebut yang menjadi tanggung jawab guru sewaktu di sekolah. Ramaikan masjid dengan kegiatan yang positif seperti pengajian rutin, menunaikan solat sunat, membaca al-qu’an dan tukar pikiran. Kegiatan tersebut pastinya mampu menimbulkan semangat positif untuk beribadah. Apabila kegiatan siswa positif maka mampu mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat untuk selalu berbuat baik. Membangun karakter siswa mulai dengan memakmurkan masjid.

http://m.muhammadiyah.or.id/id/news-10430-detail-masjid-sebagai-pusat-pendidikan-karakter-di-sekolah-muhammadiyah.html